NEWSTODAY. ID, Bandung – Kontroversi pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem terus berlanjut. Dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang menyatakan akan memindahkan Kedubes Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem, membuat masyarakat dunia geram.

Setelah sebelumnya Presiden Indonesia, Joko Widodo menyatakan mengecam klaim sepihak Trump tersebut. Kali ini pernyataan kecaman datang dari Korea Utara, Sabtu (9/12) lalu, melalui juru bicara Kemenlu Korut menyebutkan bahwa hal itu merupakan tindakan yang sembrono dan jahat. 

Bahkan Korea Utara menyebut Trump sebagai “Dotard” atau orang tua yang sudah pikun. “Mengingat fakta bahwa orang tua pikun bermental gila ini menyerukan kehancuran total terhadap negara berdaulat di PBB, tindakan ini tidak begitu mengejutkan,” kata Juru bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri Korea Utara kepada kantor berita negara Korean Central News Agency (KCNA), dikutip dari AFP, Minggu (10/12/2017). 

Sebelumnya Trump pernah menyebut Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un sebagai “Rocket Man” karena ambisinya pada peluncuran nuklir, pada pertemuan Majelis PBB terakhir. Trump juga mengancam akan menghancurkan sepenuhnya Korut jika AS terkena serangan rudal Pyongyang. 

Lantas hal ini pun memantik kemarahan Kim Jong Un. Dikutip dari pernyataannya kepada Reuters, Jumat (22/9) Kim menyebut Donald Trump “anjing”, “keterbelakangan mental”, dan “dotard” — yang menurut kamus Oxford berarti orang tua yang pikun.

Menurut Kim, bahasa yang dipilih Trump dalam pidato di pertemuan Majelis PBB tersebut sangat tidak beretika dan tidak menunjukkan penghormatan terhadap pemimpin negara lain. “Sikap keterbelakangan mental presiden AS yang secara terbuka menyampaikan keinginannya yang tidak etis untuk ‘menghancurkan sepenuhnya’ negara berdaulat, di luar batas, ancaman untuk mengubah rezim atau merombak sistem sosial,” ujar Kim Jong Un.

“Anjing yang ketakutan menggonggong lebih keras,” ujar Kim.

Dengan kejadian Yerusalem ini Korea Utara mencoba membalikan stigma masyarakat dunia. “Langkah ini jelas menunjukkan ke seluruh dunia, siapa perusak perdamaian dan keamanan dunia, siapa pariah (sesuatu yang dibenci atau ditolak) dan berbahaya di komunitas internasional,” kata Jubir Kemenlu Korut. “Pariah” dan “berbahaya” adalah dua kata yang kerap dialamatkan komunitas internasional ke Korut. 

Ini bukan kali pertama Korea Utara bersolidaritas untuk Palestina. Jadi bukan persoalan personal antara Trump dan Jong-un yang memang kerap berbalas pernyataan “pedas”. 

Dikutip dari DPRK (Democratic People’s Republic of Korea) Diplomatic Relation’s. paxil 20 mg price, generic Zoloft “Korea Utara sudah menjalin relasi dengan Palestina, terutama Palestine Liberation Organization (PLO), sejak 1966″. Pimpinan kedua negara, Almarhum Kim Il Sung dan Yasser Arafat, memiliki hubungan yang cukup dekat. 

Comments

comments


Share: