celup

NEWSTODAY.ID, Bandung – Kata “CELUP” viagra for sale, buy dapoxetine online kini menjadi pusat perbincangan di berbagai media sosial. CELUPA�merupakan akronim dari a�?Cekrek, Lapor, Uploada�?A� sebuah gerakan kampanye di media sosial yang mendorong masyarakat untuk memotret orang yang melakukan tindakan asusila di ruang publik lalu mengupload dan melaporkan foto tersebut sebagai bentuk teguran. Tetapi, apakah tindakan tersebut tepat?

Kehebohan ini berawal dari sebuah brosurA�CELUP yang beredar di media sosial. PadaA�brosur itu tertulis jelas “Pergokin Yuk! Biar Kapok!” dengan warna hurufA�putih dan latar merah muda, lengkap dengan logoA�official accountA�(OA) Facebook, Instagram, dan LINE mereka yang kini sudah tidak aktif. Dilansir dari Jawapos, Kampanye CELUP dipelopori oleh mahasiswa semester 5 dari jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Pembangunan Nasional a�?Veterana�? Jawa Timur, Surabaya (biasa disingkat denganA� UPN Veteran Jatim atau UPNVJT) dengan koordinator kampanye yang bernama Fadhli Zaky.

Foto brosur kampanye CELUP.

Penggagas gerakan Celup, Fadhli Zaky mengatakan jika kampanye tersebut untuk mengembalikan fungsi ruang publik dan bukan untuk menyebarkan aib.

“Ini adalah gerakan kampanye sosial kami untuk mengembalikan fungsi ruang publik, bukan mengunggah dan menyebar aib orang-orang yang melakukan tindakan asusila,” kata Mahasiswa desain komunikasi visual (DKV) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPN Jatim) semester VII ini via sambungan telepon, Rabu (27/12/2017).

Yang perlu dilakukan pengikutnya pun sederhana, Pengirim diiming-imingi hadiah berupa voucher pulsa, gantungan kunci, dan kaos. Tergantung dari berapa banyaknya foto yang dikirim sebagai sebuah poin. Menurut keterangan dari BBC Indonesia, Jika pengguna mendapat 300 poin, mereka bisa mendapat voucher pulsa yang total bernilai Rp100.000 dan gantungan kunci sementara pengguna yang mengumpulkan 500 poin bisa mendapat kaus.

Berbagai macam hadiah yang bisa didapatkan dengan cara menukarkan poin.|plasticdeath.com

“Jangan ragu, pelaku tindak asusila dapat dikenakan pidana kurungan penjara lima tahun atau denda sebanyak Rp5 miliar,” tulis mereka di salah satu foto yang mereka unggah.

Dasar Hukum

Dalam salah satu unggahan di akun Instagram-nya, Celup menulis agar orang ‘jangan ragu’ untuk mengirimkan foto pasangan yang sedang berpacaran, karena ada dasar hukum atas tindakan asusila yang, menurut mereka, adalah pasal 76e dalam Undang-undang Nomor 35 tahun 2014.

Namun UU Nomor 35 tahun 2014 adalah perubahan atas Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang “mempertegas perlunya pemberatan sanksi pidana dan denda bagi pelaku kejahatan terhadap anak terutama kepada kejahatan seksual yang bertujuan untuk memberikan efek jera, serta mendorong adanya langkah konkrit untuk memulihkan kembali fisik, psikis dan sosial anak.”

Aturan ini hanya bisa dikenakan pada orang dewasa yang melakukan kejahatan seksual pada anak sehingga penggunaan aturan tersebut sebagai dasar untuk menganggap seseorang melakukan pelanggaran tindak kesusilaan bisa dianggap tidak tepat.

Peneliti Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Anggara Suwahju mengatakan bahwa, “Kita harus hati-hati dengan apa yang dimaksud pelanggaran kesusilaan, karena pelanggaran kesusilaan itu mengacu pada nilai-nilai yang dianut masyarakat setempat.”

Comments

comments


Share: