Ketika Game Dianggap Berbahaya

Bermain game adalah kegiatan yang biasa dilakukan untuk mengisi waktu senggang yang kita miliki. Apalagi, stigma negatif masyarakat kita antara game dan sifat malas sudah sulit untuk dipisahkan. Para pelajar yang biasanya bermain game akan dicap sebagai pelajar malas dan tentu saja, game akan membuat prestasi akademis kita menjadi menurun. Bahkan, Gubernur Anies Baswedan saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menganggap game DOTA 2 sebagai game yang berbahaya.

Menurutnya seperti dilansir Liputan6, hal ini menjadi berbahaya karena anak-anak bermain di luar rating yang ditentukan. Dari sebuah game, ada reaksi adrenalin yang terpacu, tanpa diikuti pemahaman yang benar. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya efek kecanduan maupun perilaku kekerasan.

Bermain game online juga adalah salah satu hal yang diharamkan di Purwakarta. Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, memerintahkan anggotanya untuk mencabut dan melarang semua izin usaha yang berkaitan dengan game online dan play station. Bahkan sudah sejak jauh-jauh hari, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran tentang larangan anak-anak sekolah bermain play station dan game online melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga.

Padahal sudah banyak sekali sekolah-sekolah yang menerapkan eSports dalam pelajaran sehari-hari. Di dalam negeri sendiri, ada SMA 1 PSKD. Mereka mulai mengadopsi eSports ke dalam program sekolah mulai pada tahun ajaran 2016/2017. E-Sports dijadikan sebagai wadah untuk siswa-siswi mereka yang memiliki minat bermain game seperti, League of Legends, Defence of the Ancients 2 (DotA), dan Counter Strike: Global Offensive, Vainglory, dan Hearthstone.

E-Sports juga bisa dijadikan sebagai salah satu cara untuk menambah daya ingat. Atashka, nickname salah seorang kakek di Rusia menjadikan CS:GO sebagai salah satu terapi alternatif rutin baginya agar tidak mudah lupa. Bahkan tak jarang, ia sering menjadi pemain penting di timnya untuk meraih kemenangan. Dari sini, kita belajar. Apakah eSports akan tetap dicap negatif suatu hari nanti?

Comments

comments


Share: