Mahasiswa saat ini kerap kali diidentikkan sebagai salah satu tokoh penggerak bangsa. Mereka adalah Agent of Change. Bahkan beberapa kalangan menyebutkan kalau seharusnya mahasiswa tidak selayaknya hanya diam dan asyik dengan dunianya sendiri, baik dunia pribadi maupun dunia kampus, tanpa peduli dengan problem sosial di tengah masyarakat. Semakin dewasa umurnya, juga harus diimbangi dengan semakin dewasa sikapnya. Tantangan hidup yang nantinya akan dihadapi tentu akan menjadi semakin berat.

Namun, apa jadinya apabila seorang mahasiswa justru malah memiliki kecacatan mental dan mereka tidak sanggup menahan beratnya dunia perkuliahan? Seperti yang dikutip oleh tirto.id dari Journal of American Medical Association, mereka meneliti bahwa 27% dari mahasiswa kedokteran yang ada di 47 negara mengalami depresi dan gejala serupa. Selain itu, 11% di antara mereka pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Mahasiswa merasa ditekan untuk membuktikan bahwa mereka bisa mendapatkan nilai akademis yang baik. Mahasiswa dituntut untuk bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu.

Gregg Henriques, Ph.D, seorang professor dari James Madison University di Virginia mengungkapkan bahwa jumlah mahasiswa yang mengalami depresi dan kekhawatiran berlebih meningkat drastis. Jumlah mahasiswa yang mengalami depresi dan kekhawatiran berlebih di pertengahan tahun 80-an, berkisar di angka 10-15 persen, namun semua itu berubah. Dan sekarang, kisaran angka tersebut meningkat drastis di angka 33 hingga 40 persen seperti yang dikutip dari IDN TIMES.

Sebagai contoh tepat pada Hari Pendidikan Nasional yang berlangsung pada Senin (2/5/2016) lalu, Roymando Sah SiregarA� seorang mahasiswa psikopat asal Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) nekad mengakhiri hidup dosennya dengan cara menggorok leher Dra Hj Nurain Lubis yang hendak mengambil wudhu. Sebelumnya, terjadi cekcok soal skripsi antara Roymando dan dosennya.

Sontak, dunia perkuliahan Indonesia khususnya Sumatera Utara menjadi sorotan. Depresi, membuat batin para mahasiswa menjadi tertekan. Mereka tak lagi bisa A�berpikir secara jernih. Data menunjukkan pada tahun 2015 lalu, bunuh diri telah menjadi jalan terakhir bagi seorang mahasiswa untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang tengah dihadapi.A� Dalam kurun waktu 8 bulan, 5 Mahasiswa di Medan Bunuh Diri. Dan 3 di antaranya adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara.

Kurangnya istirahat dan sifat mahasiswa yang terlalu tertutup membuat mereka sulit untuk berpikir secara jernih. Faktor seperti gangguan bipolar, kecemasan, depresi dan skizofrenia membuat psikis mahasiswa. Oleh sebab itu, salah satu cara yang paling efektif seperti yang diungkapkan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Kejiwaan Indonesia Daerah Jawa Barat Tedy Hidayat kepada Liputan6 bahwa peranan orang terdekat seperti keluarga sangat penting untuk mencegah terjadinya bunuh diri. Ingat, anda tak sendirian menjalani hidup. Bagi mahasiswa yang beragama, setiap orang di dunia ini tentu akan mengalami masalah, ringan maupun berat. Bunuh diri bukanlah sebuah pilihan untuk menyelesaikan masalah. Ini akan memunculkan masalah baru. Cobalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Mengunjungi rumah ibadah, berkomunikasi dengan ahli agama untuk mendapatkan solusi yang terbaik barangkali bisa menjadi pilihan yang nantinya dicoba. Sebab Tuhan tidak pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya.

 

  dapoxetine buy, cheap zithromax

Comments

comments


Share: