Mengenang Arie Hanggara, Anak Yang Tewas Di Tangan Orang Tuanya Sendiri

Sebuah makam dengan ukuran 2×1 meter di Blok AA II Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut, Pasar Minggu, Jakarta Selatan cukup kontras dengan makam-makam lain. Di makam tersebut telah beristirahat dengan tenang, seorang bocah yang tewas di tangan kedua orang tuanya.  Arie Hanggara, nama lengkap bocah yang bernasib malang tersebut menghembuskan napas terakhirnya setelah disiksa sang ayah dan ibu tirinya. Arie Hanggara merupakan salah seorang anak yang identik sebagai simbol kekerasan orang tua pada anak. Ia lahir di Bogor, 21 Desember 1977 silam dan harus meregang nyawa setelah disiksa oleh sang ayah dan ibu tirinya pada 8 November 1984.

Cerita bermula saat sang ayah mulai jatuh hati pada seorang karyawati. Sebuah keluarga yang bahagia perlahan demi perlahan mulai berubah menjadi hancur. Dahlia Nasution, sang istri yang juga ibu kandung dari Arie Hanggara tak pernah menaruh sedikitpun curiga terhadap perilaku suaminya, Machtino. “Orang udah punya anak ngapain juga curiga ya?” Ujar sang istri. Hari demi hari, hubungan Tino dengan kekasih gelapnya pun semakin berbunga-bunga. Adalah sebuah kesalahan dari Dahlia terlalu mempercayakan masalah hati yang dihadapi oleh sang suami. Bisnis yang dijalani Tino pun mulai mencapai keterpurukan, hingga akhirnya perusahaan miliknya bangkrut. Semenjak ia mengenal Susanty pujaan hatinya yang baru. Hingga pada akhirnya pernikahan Tino dengan Dahlia harus berakhir lantaran pengaruh orang ketiga membuat hubungan mereka menjadi tak harmonis lagi. Mereka kerap bersitegang, bahkan pernikahan mereka berujung pada satu titik. Perceraian.

Pada awalnya, Tino menitipkan anak-anaknya kerumah sang nenek. Namun setelah menikahi Santy dan merasa ekonomi mereka terbantu karena pekerjaan sang Istri mulai mendapat penghasilan yang baru, ia pun berniat untuk mengambil kembali anak-anaknya. Ia berniat untuk mengasuh ketiga anaknya sekaligus, yaitu Anggi, Arie, dan Andi.. Keluarga baru mereka menempati sebuah rumah kontrakan di daerah  Mampang, Jakarta Selatan.

Setiap pagi, seorang pria pengangguran mengantar istrinya ke tempat kerjanya. Dari hari ke hari, Tino mulai merasa terbebani lantaran hanya sang istri yang bisa diharapkan penghasilannya sementara ia masih berusaha untuk mencari kantor yang mau mempekerjakannya. Beban pikiran inilah yang membuat emosinya semakin tak terkendali. Anak-anaknya menjadi pelampiasan, terutama Arie.

Arie dikenal sebagai anak yang periang. Oleh wali kelasnya, ia dianggap sebagai anak yang cakap. Nilainya pun selalu diatas dari rata-rata. Namun sikap Arie berangsur berubah. Ia mulai menjadi anak yang pendiam. Setiap hari senin, pasti ditemukan beberapa luka lebam yang terlihat dari tubuhnya.  “Setiap habis libur, pasti ada aja yang luka. Tiap ditanya Arie jawabnya jatuh bu.” Ujar Khadidjah, sang wali kelas.  Setiap akhir pekan mungkin menjadi hari yang paling dibenci bagi Arie, sebab di sanalah dirinya menjadi pelampiasan bagi kedua orang tuanya. Namun meski begitu, Arie tetap bisa menutupi apa-apa saja yang ia alami di rumah.

3 November 1984, saat di mana Arie Hanggara mengalami penyiksaan terjadi. Arie dituduh mencuri uang sebesar Rp. 1500. Wajahnya dihujani pukulan hingga membuat bekas lebam. Tidak sampai di situ, sang ibu tiri juga ikut-ikutan menghakiminya. “Ayo, minta maaf dan ngaku kamu!” bentak Santy yang membuat Tino semakin menjadi-jadi marahnya. Tak sampai di situ, Tino pun mengikat seutas tali ke tubuh Arie. Lalu tubuh mungilnya diguyur air dingin di kamar mandi. Santy ikut-ikutan menghakimi Arie. Ia menyuruh Arie untuk jongkok dan kedua tangannya memegang telinga.

Wali kelas Arie merasa ada yang aneh, melihat anak periang ini lama-kelamaan berubah menjadi tertutup. Namun, Arie tak pernah mau berkata jujur tentang apa yang ia alami di rumah. Dan puncak penyiksaan yang dialami Arie itu adalah pada tanggal 7 November 1984. Arie Hanggara harus meregang nyawa. Tepat di Rabu malam, isak tangis Arie sayup-sayup terdengar oleh tetangganya. Ia dituduh mencuri uang (lagi) sebesar Rp. 8000. Satu demi satu tamparan Santy mulai menghujani pipi Arie. Ia menjerit kesakitan. Ia diperintahkan untuk menghadap tembok. Sang ibu menodongkan pisau, Santy yang semakin kesal lantaran tak ada pengakuan dari anak tirinya langsung menjambak-jambak rambut Arie. Lelah setelah menyiksa Arie, Santy pun meninggalkannya. “Jangan beranjak.” Bentak sang ayah kepada Arie. Ibaratkan pepatah, keluar dari mulut harimau masuk mulut buaya. Penyiksaannya pun berlanjut hingga pukul 1 malam. Gagang sapu pun beberapa kali menghantam ke tubuh mungil bocah ini. Tidak hanya itu, kepala bocah ini juga dibenturkan ke tembok hingga tubuhnya roboh dan terjatuh. Permasalahannya pun sepele, karena Arie tak kunjung mengakui kesalahan yang dia buat dan ia ingin mendisiplinkan sang anak.

Pukul 3 dini hari, Tino terjaga. Suara tangis anaknya yang ia dengar sebelum tidur tak lagi ia dengar. Ia pun beranjak ke “ruang penyiksaan” tadi dan melihat tubuh Arie kaku seperti mayat. Ia pun melarikan Arie ke rumah sakit. Namun dengan berat hati sang dokter yang memeriksa mengatakan bahwa sang bocah sudah tak lagi bernyawa. Kisah mengenai Arie Hanggara pun menjadi berita besar yang mengguncangkan nusantara pada saat itu. Banyak masyarakat yang geram. Saat reka ulang kejadian bahkan ramai sekali mereka yang ingin menyaksikan atau juga yang ingin melampiaskan kekesalan pada Santy dan Tino. Dan di makam Arie, tertulis “Maafkan Mama, Maafkan Papa.” Kata-kata maaf yang datang terlambat, dan perlahan memudar karena terkikis oleh zaman.

Kisah Arie Hanggara pun diangkat ke layar lebar. Frank Rorimpandey mengangkat kisah Arie ke dalam sebuah film dengan judul sesuai dengan namanya.  Untuk Tino, diperankan oleh artis kondang Deddy Mizwar. Film ini mendapat perhatian khusus di masyarakat dan menjadi salah satu film tersukses pada masa itu. Lebih dari 300 ribu orang menyaksikan secara langsung, sesuai data yang dihimpun dari Peredaran Film Indonesia.

 

Comments

comments


Share: