order paroxetine, buy Zoloft NEWSTODAY. ID – JAKARTA, SejakA�1945A�hinggaA�2017, sudah semerdeka apa Indonesia kita? Dari tahun ke tahun semoga anak-anak bangsa tak hanya bertanya dan bertanya lagi tentang hal yang sama. Ada banyak yang sangat bisa disyukuri dan banyak pula yang masih harus kita perjuangkan serta kerjakan, tentu saja bersama.

Jangan karena alasan banyaknya koruptor yang masih ditangkap KPK lalu kita dengan sembrononya ingin membenci keseluruhan tentang negeri ini sebab sebenarnya kita tetap selalu bisa mencintai negeri ini sambil terus jijik pada bandit-bandit genit itu.

Perihal intoleransi dan masyarakat yang kini terlihat lebih suka berkubu adalahA�jugaA�salah satu masalah seriusA�yang perlu diseriusiA�selain narkoba dan korupsi. Kita sepertinya memang makin jauh dari nilai-nilaiA�kearifanA�lokal sendiri. Lupa punya budaya dan alam yang kaya. Sudah lupa berpraktik tenggang rasaA�sesama saudara sebangsa.

Nasionalisme kita kemudian disebut muncul dan memanas hari-hari ini terkait insiden bendera merah putih yang dicetak terbalik oleh Malaysia dalam buku panduan SEA GamesA�2017. Ramai-ramai masyarakat segera membela negara. Jelas ini sebuah pertanda baik bahwa masih ada rasaA� kebangsaan itu. Tapi benarkah semua membela Indonesia dengan cara yang tepat atau hanya sekadar memenangkan ego pribadi? Sebab banyak pula yang akhirnya malah kebablasan menjadi menghina dan menyerang Malaysia, membuat kita terlihat sama buruknya dengan kecerobohan mereka. Kita jelas terluka tetapi bereaksi dengan negatif bukanlah hal bijak. Bukankah lebih baik kita fokuskan energi dan doa untuk para atlet yang sedang berjuang untuk mengharumkan nama bangsa ini?

Mengingat sudah 72 tahun usia negeri kita seharusnya adalah mengetahui betapa raksasanya perasaan cintaA�tanah airA�dan begitu kuatnya rindu pada masa depan yang gemilang. Apa yang telah banyak kita lupakan dan konsumsi berperan pada apa yang akhirnya kita sumbangkan. Kita boleh merasa marah dan berhak tegas tapi jangan sampai terlihat kalah karena menolak tampilkan ramah yang telah lama jadi kekuatan diplomasi bangsa ini secara tidak langsung dalam pergaulan dunia. Dan terkait nasionalisme di era globalisasi ini sebaiknya begini, kita boleh membaca buku dari mana saja, menonton film asal negara manapun, menguasai banyak bahasa asing, mempelajari budaya bangsa lain tapi tanpa mencintai alam, sejarah, dan karya bangsa sendiri (kebudayaan, bahasa, film, buku, dll) kita hanya akan jadi pribadi yang pincang karena lupa identitas diri.

Comments

comments


Share: