Penonton Bayaran; Bukannya Membayar, Eh Malah Dibayar

NEWSTODAY.ID, Medan-Ketika masih kecil, orang-orang dominan memkirkan profesi-profesi yang sudah umum seperti dokter, arsitek, pengacara, pilot, polisi, musisi dan lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu kita semakin sadar bahwa banyak profesi-profesi yang tidak pernah kita dengar sebelumnnya. Salah satunya adalah penonton bayaran.

 

Sangat banyak masyarakat yang suka menonton konser-konser di pagi hari. Tapi banyak yang tidak tahu bahwa sebagian besar mereka yang terlibat menjadi penonton langsung konser tersebut di beberapa stasiun televisi Indonesia adalah penonton bayaran.

 

Penonton bayaran adalah istilah yang dilabelkan kepada mereka yang terpilih menjadi penonton dalam suatu kegiatan/acara dan mendapat bayaran. Biasanya pekerjaan ini hanya berjalan kurang dari 2 jam sehari. Dan gaji yang didapat tergantung dari tingkat kepentingannya dalam acara tersebut. Biasanya gaji yang diperoleh penonton bayaran berkisar Rp.30 ribu sampai Rp.200 ribu per acara.

 

Walau pekerjaan ini tidak masuk kedalam kategori kejahatan, walau tidak merugikan siapapun, dan walau tidak melangar undang-undang. Tapi tetap saja banyak orang yang mencemooh dan tidak memberi pengakuan bahwa penonton bayaran adalah sebuah profesi. Mengacu pada pasa 27 ayat (2) UUD Nergara Republik Indonesia Tahun 1945, bahwa setiap warga negara Indonesia berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal tersebut juga dapat diartikan sebagai bahwa setiap warga negara Indonesia berkeinginan memenuhi kubutuhan hidupnya dan terhindar dari kemiskinan. Jadi, merupakan hal yang salah bagikita jika mengangap penonton bayaran bukanlah profesi.

 

Walaupun terlihat tidak terlalu berperan dalam sebuah acara, ternyata penonton sejatinya memiliki peranan penting pada hidup tidaknya suasana dalam sebuah acara. Bahkan banyak konser yang tidak jadi diadakan karena jumlah penonton tidak mencapai target. Dari hal tersebut dapat kita lihat bahwa peran penonton sangat primer, oleh sebab itulah banyak kordinator acara menyewa penonton untuk hadir dan menjalankan instruksi yang diberikan saat acara berlangsung.

 

Dibandingkan dengan gaji pegawai kantoran, sebenarnya ada perbedaan yang lumayan diantarannya. Gaji egawai kantoran biasanya berkisar Rp. 2.500.000 yang harus bekerja minimal 8 jam sehari, sedangkan penonton bayaran mampu menambal dompet sampai menyentuh angka 4-8 juta rupiah perbulan walau hanya bekerja kurang dari 2 jam. Namun, penonton bayaran selalu dituntut tampil Necis dan kekinian supaya dapat menaikan pamor acara tersebut di mata masyarakat. Oleh karena itu, uang yang diperoleh akan cepat habis. “Belim lagi penghasilan yang lumayan itu biasanya mudah habis untuk makan sehari-hari dan membeli make up serta baju. Karena menjadi penonton bayaran dituntut untuk berpenampilan necis.

Comments

comments


Share: